Sejarah Desa

 

Sokobanah termasuk berada dibawah penembahan Bangkalan yang berada di perbatasan antara Bangkalan dan Pamekasan. Pada waktu itu sebagian rakyat yang tidak menyetujui pemerintahan Bangkalan mereka menimbulkan kerusuhan antar rakyat yang pro dan inti penembahan Bangkalan. Pembunuhan, pencurian dan bajak laut merajalela sehingga keadaan tidak aman. Pelopor kerusuha-kerusuhan tersebut tak lain adalah bersaudara (4 orang) yang terkenal dan termasyur diantara 4 bersaudara bernama Sagatra yang mempunyai 3 saudara yang semuanya laki-laki.

Berhubung keadaan di sokobanah terus menerus tidak aman bahkan semakin parah, akhirnya oleh penambahan Bangkalan diadakan penjagaan yang terdiri dari pasukan/prajurit (pajinaman) dan semua penjaga yang ada di Sokobanah. Akhirnya mendengar bahwa kepala dari kerusuhan tersebut adalah Djaga sagatra (Djaga satra bersaudara) sedangkan prajurit penjaga keamanan dibawah pimpinan seorang tumenggung bersama-sama rakyat yang pro padanya serentak mengadakan penangkapan terhadapnya. Tetapi malang nasib mereka karena perlawanan dari Sagatra Cs yang amat sengit, sehingga diantara prajurit-prajurit dan rakyat banyak yang menemui ajal, luka berat sedangkan yang lain melarikan diri. Jenazah dari pihak lawan maupun kawannya oleh Djujuk Sagatra Cs ditumpuk disebelah utara rumah yang ditempati Camat (Tugu Pahlawan) yaitu rumah R. Astro Judho disana ada sebidang tanah yang dinamai Palo Batang yang terletak disebelah barat pemakaman Buk Pandan. 

Tak lama dari kejadian tersebut dengan diam-diam Djujuk Sagatra dan Sagatro (Djaga Sagatro) di tangkap oleh prajurit datang secara sembunyi-sembunyi kemudian ditawan ke Bangkalan. Sedangkan saudaranya yaitu Sraba (Djaga Sabra) melarikan diri ke selatan dan menurut para sepuh, beliau menuju ke Batu Ampar, Omben, Sampang yang terkenal dengan Bujuk Kenanga. Karena itulah menurut keterangan dari sesepuh, jika ada diantara keturunan Djujuk berselisih dengan orang Omben Batu Ampar jangan dilayani karena khawatir mereka masih keturunannya. Sedangkan saudaranya yang termuda (R. Ario Djaga Astra) bersembunyi di Sokobanah. Akhirnya saudaranya yang termuda dan famili-famili yang lainnya ingin sekali mendengar duduk perkara kedua saudaranya yang ditawan oleh penembahan Bangkalan. Dan kurang lebih 4 bulan dari tawanannya Djaga Sastra dan Djaga Satro maka saudaranya yang termuda (Djaga Astra) bersama dengan familinya pergi ke Bangkalan menggunakan perahu. Sesudah tiba di Bangkalan, kampung Bandaran mereka mendengar bahwa dua tawanan yang dari Sokobanah dijatuhi hukuman mati dan di kebumikan di kampung Mlagah.

    Menurut orang yang memberi kabar itu, setelah tawanan tersebut menderita kesakitan akhirnya mereka berdua minta kepada para perajam yaitu saudara tertua (Djaga Satra) minta ditikam dibawah pelernya (kemaluannya) sedang saudara yang satunya (Djaga Satro) minta ditikam dibawah ketiaknya hingga meninggal. jadi kelemahan Djaga Sastra dan Djaga Satro adalah seperti tersebut diatas. Setelah mendengar yang demikian itu, saudara termuda (Djaga Astra) mempunyai pendapat untuk menghadap panembahan guna mohon ijin agar jenazah dibawa ke Sokobanah.

Permintaan tersebut oleh penembahan diijinkan untuk membongkar jenazah saudara-saudaranya tersebut, beliau diantar oleh hulubalang ketempat pekuburannya di Maladjah. Pada waktu penggalian orang-orang turut menyaksikan kagum, sebab jenazah kedua tawanan Djaga Satra dan Djaka Satro walaupun mereka dikubur lebih dari 5 bulan jasadnya masih utuh dan tidak membusuk. Kemudian setelah itu, diangkat ke perahu yang sudah di sediakan. Dan sesampainya di Sokobanah semua rakyat menyambut dan jenazah-jenazah tersebut di kubur ke pekuburan Mongging yang terkenal dengan sebutan Bujuk Mongging. Akhirnya dawuh para sesepuh, Sagatra yang termuda yang dikenal dengan Djujuk Labang oleh penembahan Bangkalan diangkat menjadi kepala Maduratan Labang (pintu gerbang) didaerah Sokobanah dan daerah bagian atau kekuasaaannya yang ada di Kecamatan Sokobanah.

Pangkat labang pada zaman penembahan berat sekali karena tanggung jawabnya di segala bidang, baik keamanannya maupun perekonomiannya dan tempat tinggal Djujuk Labang tepat di sebelah timur pemakaman Batu Tampe. Dan menurut keterangan para sepuh, tepat didepan rumuh Djujuk Labang di beri pintu gerbang sebagai tanda rumah Maduratan Labang. Pintu tersebut ada yang menjaga baik siang maupun malam, bila malam pintu gerbang tersebut ditutup dan berarti siapapun tidak di perkenankan berjalan dan harus menunggu hingga siang hari. Djujuk Labang (R. Ario Djaga Astro) berputra 3 orang yaitu Madin (R. Ario Djaga Judho), Nyai Bira yang menikah dengan Sayyid Abdurrahman dan Nyai Bella yaitu orang tua dari pak Misari kampung balanan desa Bira Timur dan mempunyai anak Buk Tahlal.

Setelah itu, R. Ario Djaga Astro tersebut diangkat oleh penembahan Tjokroningrat ke V Bangkalan Tahun 1747 M sebagai kepala Maduratan Labang, yaitu pintu gerbang perbatasan kraton Bangkalan dan Sumenep. Sebagai hadiah pada beliau karena dapat mengamankan pemberontakan yang ada di desa Sukosodho atas jasa R. Djaga Astra itulah maka daerah tersebut diberi nama Soka Ba’nah (suka kamu) dan tanah pemberian ini diberi nama Soka Banah yang sekarang menjadi Kecamatan Sokobanah. Karena wilayah Sokobanah sangat luas maka yang posisinya berada di wilayah bagian selatan selanjutnya di beri nama Sokobanah Laok.

Nama-nama Kepala Desa Sokobanah Laok yang pernah menjabat adalah sebagai berikut :

No

Nama Kepala Desa

Tahun

Keterangan

1

Indra Kusuma Iswadi SE.,MM

2008 – sekarang

Kades

2

M. Djaikun

1992 – 2008

Kades

3

R. Moh. Fandi

1961 – 1992

Kades

4

R. Yudo Prawiro

1938 – 1961

Kades

No comments:

Post a Comment

Pages